Let it out, let it out
Fill the empty space
So insecure
Find the words
And let it out
Staring down, staring down
Nothing comes to mind
Find the place
Turn the water into wine
But I feel I'm getting nowhere
And I'll never see the end
So I wither
And I render myself helpless
I give in
And everything is clear
I break down
And let the story guide me
Turn it on, turn it on
Let the feelings flow
Close your eyes
See the ones you used to know
Open up, open up
Don't struggle to relate
Lure it out
Help the memory escape
Still this barrenness consumes me
And I feel like giving up
So I wither
And I render myself helpless
I give in
And everything is clear
I break down
And let the story guide me
I wither
And give myself away
Like reflections on the stage
The world's what you create
I drown in hesitation
My words come crashing down
All my best creations
Burn into the ground
The thought of starting over
Leaves me paralyzed
Tear it out again
Another one that got away
I wither
And render myself helpless
I give in
And everything is clear
I wither
And render myself helpless
I give in
And everything is clear
I break down
And let the story guide me
I wither
And give myself away
Like reflections on the page
The world's what you create
The world's what you create
Let it out, let it out
Sunday, April 10, 2011
Dream Theater - Wither
Saturday, February 26, 2011
baca terus! kesindir terus!
Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum.
Kita melihat kabur pribadi orang, karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus, karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja ?
Inilah gambaran rata-rata pemuda tamatan SLA, pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan. Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan, dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan, serta pengetahuan akan kelakuan manusia, sebagai kelompok atau sebagai pribadi, tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri. Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya bisa berkuasa, persis seperti bapak-bapak kita. Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan untuk menjadi alat dari industri. Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi! Dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan, menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap. Pendidikan tidak memberi pencerahan. Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap. Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan, lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini? Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan, wajah berdarah akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter, dianggap sebagai orang terpelajar, tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan. Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara, kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara, sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi dianggap bunga plastik, sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan. Dan bila luput, kita memukul dan mencakar ke arah udara.
Kita adalah angkatan gagap. Yang diperanakan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu. Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya."
Sajak-Sajak Anak Muda oleh Alm. Willibrordus Surendra Broto Rendra.